Buat Akun Atau Masuk
Beranda Beli Sewa Cari Listing Cari Agen

Daya Pikat Arsitektur Khas Bali


Arsitektur tradisional Bali dapat diartikan sebagai tata ruang yang mewadahi kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun menurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari zaman dahulu hingga sekarang. Arsitektur Bali merupakan gaya arsitektur vernacular yang didesain menggunakan bahan-bahan lokal untuk membangun bangunan, struktur, dan rumah-rumah, serta mencerminkan tradisi lokal.

Arsitektur Bali sangat dipengaruhi oleh tradisi Hindu-Bali, serta unsur Jawa kuno. Bahan yang biasa digunakan di rumah-rumah dan bangunan Bali antara lain atap jerami, kayu kelapa, bambu, kayu jati, batu, dan batu bata. Arsitektur Bali memiliki karakteristik menggunakan budaya kuno dan kesenian di setiap elemen desain.

Arsitektur tradisional Bali tidak lepas dari keberadaan manuskrip Hindu bernama “Lontar Asta Kosala Kosali” yang memuat tentang aturan-aturan pembuatan rumah atau puri dan aturan tempat pembuatan ibadah atau pura. Dalam manuskrip Lontar Asta Kosala Kosali disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah rumah harus mengikuti aturan-aturan anatomi tubuh pemilik rumah dengan dibantu sang Undagi sebagai pedande atau orang suci yang mempunyai wewenang membantu pembangunan rumah atau pura.

Filosofi dari desain arsitektur Bali berpusat pada agama Hindu, organisasi ruang, dan hubungan sosial yang bersifat komunal. Sebuah rumah atau villa di Bali dibangun dan dirancang dengan 7 filosofi berikut:

  1. Tri Hata Karana, menciptakan harmoni dan keseimbangan antara 3 unsur kehidupan atma atau manusia, angga atau alam, dan khaya atau dewa-dewa.

  2. Tri Mandala, aturan pembagian ruang dan zonasi

  3. Sanga Mandala, seperangkat aturan pembagian ruang dan zonasi berdasarkan arah

  4. Tri Angga, konsep atau hierarki antara alam yang berbeda

  5. Tri Loka, mirip dengan Tri Angga tetapi dengan alam yang berbeda

  6. Asta Kosala Kosali, 8 pedoman desain arsitektur tentang simbol, kuil, tahapan, dan satuan pengukuran,

  7. Arga Segara - axis suci antara gunung dan laut

Bali memiliki ciri khas yang berbeda dan kuat. Arsitektur Bali sangat digemari dimana-mana, hingga ke mancanegara. Walaupun pada beberapa bagian masih terdapat unsur-unsur Hindu Jawa Kuno, Bali tetap memiliki ciri khasnya tersendiri. Berikut adalah unsur-unsur yang menjadi ciri khas dari arsitektur Bali:

1. Adanya Pura atau Kuil Umat Hindu 

Masuknya agama Hindu di pulau Bali memberikan dampak yang cukup signifikan, terutama pada gaya arsitekturnya. Arsitektur Bali secara umum didominasi oleh pengaruh Hindu sejak kedatangan Majapahit ke pulau ini pada abad 15. Kedatangan Majapahit ini juga meninggalkan kebudayaan berupa teknik pahatan pada batu yang kemudian difungsikan sebagai patung atau Pura. Seiring dengan perkembangan zaman, kehadiran patung dan pura kecil begitu melekat dan identik dengan gaya arsitektur Bali.

2. Adanya pengaruh dari Kepercayaan Polytheisme

Polytheisme atau pemujaan kepada banyak dewa merupakan kebudayaan awal yang eksis di pulau Bali sebelum kedatangan Hindu ke pulau tersebut. Maka dari itu, di beberapa gaya arsitekturnya masih dapat kita temui unsur-unsur kebudayaan ini. Orang-orang Bali kerap membangun pura atau rumah mereka dengan konsep terbuka, terutama untuk hal-hal yang bersifat peribadatan atau pemujaan kepada Dewa-Dewa. Bahkan, kita sering melihat dalam satu kompleks pura terdapat lebih dari satu pura di mana masing-masing pura digunakan untuk memuja Dewa yang berbeda.

3. Struktur rumah tradisional yang kompleks 

Rumah-rumah di Bali cenderung memiliki struktur yang kompleks namun tertata rapi. Rumah-rumah berasitektur tradisional Bali tidak hanya terdiri atas satu unit stuktur, tapi memiliki sekumpulan bangunan-bangunan. Tiap bangunan dihuni satu kepala keluarga. Biasanya, mereka yang tinggal di kompleks ini merupakan keluarga besar dan berasal dari keturunan yang sama.
Di sekeliling kompleks bangunan ini dibangun tembok yang tidak terlalu tinggi, namun cukup memisahkannya dengan dunia luar. Pada kompleks bangunan ini terdapat satu pura untuk sembahyang, dapur yang digunakan untuk bersama, area untuk tidur, serta area untuk pertemuan penting atau perjamuan. Untuk tujuan itu, biasanya pada kompleks bangunan dibangun 2 macam paviliun, yaitu paviliun untuk menerima tamu serta paviliun khusus untuk upacara adat dan ritual keagamaan.

Kuil keluarga merupakan area yang paling suci dari keseluruhan kompleks rumah, dan terletak di Timur Laut (Kaja-Kangin) yang diidentifikasikan sebagai kepala dari kompleks rumah. Kuil keluarga ini selalu dikurung di dalam tempat suci (Pamerajan). Kuil yang paling penting adalah Kamulan Sanggah, sebuah kuil yang berisi tiga kompartemen yang didedikasikan untuk trimurti Hindu Brahma, Wisnu dan Siwa.

Blog Populer Lainnya


Blog Terkait