Buat Akun Atau Masuk
Beranda Beli Sewa Cari Listing Cari Agen

7 Desain Modern Kontemporer Yang Bisa Anda Terapkan Untuk Rumah Anda


Gaya kontemporer mulai berkembang sekitar awal 1920-an yang dipelopori oleh sekumpulan arsitektur Bauhaus School of Design di Jerman. Mereka merespon kemajuan teknologi dan perubahan sosial masyarakat akibat perang dunia. Gaya kontemporer dalam seni bangunan sendiri mulai berkembang pesat pada tahun 1940-1980an.
Istilah arsitektur kontemporer mengacu pada gaya bangunan saat ini. Dalam bidang arsitektur, kontemporer dan modern tidak memiliki makna yang sama. Modern mengacu pada arsitektur modernis yang ada pada awal hingga pertengahan abad 20. Kontemporer pada dasarnya adalah gaya desain yang sedang up to date atau sedang diproduksi pada masa sekarang. Kontemporer bersifat dinamis dan tidak terikat oleh suatu era. Sebaliknya, modern pada dasarnya menandakan sebuah era setelah era tradisional atau pra-industri. Desain yang kontemporer menampilkan gaya yang lebih baru.
Gaya lama yang diberi label kontemporer akan menghasilkan suatu desain yang lebih segar dan berbeda. Kontemporer juga menyajikan kombinasi gaya, seperti modern kotemporer, klasik kontemporer, rustic kontemporer, dan lainnya. Arsitektur kontemporer bukanlah sebuah gerakan arsitektur, seperti halnya Baroque, Futurisme, atau Modernisme, yang selalu dikaitkan dengan periode sejarah tertentu. Ini berarti bahwa arsitektur kontemporer dapat menawarkan berbagai pilihan arsitektur, yang berdiri sendiri dan tidak mengikuti apa yang biasanya dilakukan. Namun, banyaknya variasi yang tercipta dari arsitektur kontemporer tidak menghapus ciri-ciri umum yang ada dari arsitektur kontemporer. Hal inilah yang akan kita bahas sekarang.

Contoh Desain Modern Kontemporer

  1. De Stijl
    Pada umumnya de stijl menampilkan kesederhanaan dan abstraksi pada arsitektur dan lukisan, hanya menggunakan garis lurus vertikal dan horisontal dan bentuk-bentuk persegi. Lebih jauhnya, mereka membatasi pada warna-warna dasar, merah, biru, kuning, hitam, putih, serta abu-abu. Mereka menghindari bentuk semetri dan keseimbangan dengan penggunaan oposisi.
    Elemen pergerakan adalah arti lain dari de stijl: “a post, jamb atau support”, hal ini banyak terlihat di karya yang menggunakan kayu. Pada pekerjaan tiga dimensi, garis vertikal dan horisontal di posisikan pada lapisan yang tidak berpotongan, dengan membiarkan tiap elemen tetap kelihatan tanpa mengganggu elemen lainnya. Hal seperti ini dapat ditemukan pada Rietveld Schröder House dan Red and Blue Chair.
    Gerakan De Stijl dipengaruhi oleh lukisan kubisme seperti mysticism dan pikiran tentang bentuk geometris yang ideal di neoplatonic. Karya de stijl mempengaruhi gaya bauhaus dan gaya internasional dan gaya arsitektur internasional seperti pakaian dan desain interior. Namun demikian, tidak mengikuti aliran-aliran desain secara umum “ism” (cubism, futurism, surrealism), tidak juga mengikuti prinsip sekolah seni seperti bauhaus.
  2. Streamlining
    Norman Bell Geddes pada tahun 1935 ialah salah seorang pencetus gaya Streamlining yang diilhami dari hukum aerodinamik dan aneka binatang terbang. Gaya streamlining meskipun tadinya hanya diterapkan pada beberapa produk transportasi berkecapatan tinggi, tetapi pengaruhnya meluas kepada berbagai produk sehari-hari, bahkan karya arsitektur.
    Gaya ini dinilai oleh berbagai kalangan sebagai paduan yang paling harmonis antara aspek estetik dan teknologi. Hal itu dapat kita lihat pada desain-desain pesawat terbang, kapal selam, kereta api, dan berbagai jenis kendaraan darat. ciri karya yang paling khas dari desain ini adalah bentuk yang serba runcing
    • Ciri - Ciri Steamlining
    - Berorientasi pada garis horizontal
    - Sudut  - sudut runcing
    - Bentuk - bentuk seperti jendela kapal
    - Biasanya diaplikasikan pada benda - benda chrome ( mobil, jam, pemanggang roti, furniture dll)
    - Permukaan eksteriornya halus
    - Menggunakan warna yang kalem seperti krem, warna warna dasar dan putih tulang. warna kontras seperti warna gelap atau warna chrome yang terang untuk memciptakan kontras antara garis dan dasar.
  3. Eklektik
    Eklektisme adalah gaya desain dan arsitektur yang muncul pada abad ke-19 dan 20. Gaya ini menggabungkan unsur gaya historis dari masa sebelumnya untuk menciptakan sesuatu yang baru dan asli. Dalam arsitektur dan desain interior, elemen-elemen ini mencakup struktur bangunan, furnitur, motif dekorasi, serta ornament-ornamen, motif budaya tradisional atau gaya dari negara lain.
    Pada abad ke-19, Eropa dan Amerika Serikat mengalami Revolusi Industri besar-besaran, yang juga memunculkan material baru pada arsitektur. Besi cor, besi tempa, baja, dan kaca muncul sebagai bahan bangunan yang lebih praktis untuk digunakan. Namun, tanpa petunjuk bagaimana menggunakan bahan-bahan baru tersebut, banyak arsitek yang mencari inspirasi dan melihat pada gaya arsitektur masa lalu. Abad ke-19 identik dengan serangkaian ‘revival movements’, di mana gaya masa lalu kembali muncul sebagai simbol dari kekuasaan modern. 
    Eklektik muncul pada akhir abad ke-19 karena para arsitek pada saat itu ingin mencari gaya baru yang belum pernah orang lihat sebelumnya. Dengan dasar gaya-gaya desain masa lalu, mereka kemudian mencampur dan memadukan berbagai macam gaya yang akhirnya memberikan banyak inspirasi dengan kebebasan berekspresi. 
    Kekuatan pendorong utama dari Ekletisme adalah penciptaan, bukan nostalgia dan ingin membuat desain yang original. Gaya eklektik juga digunakan untuk desain rumah pada abad ke-20. Pada saat itu rumah adalah simbol dari kekayaan dan kemakmuran. Semakin mewah isi rumah, semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang. Secara estetika, gaya ini lebih berkaca pada gaya masa lampau daripada masa depan. Tidak heran terdapat berbagai unsur arsitektur di dalamnya, seperti Gotik, Rococo dan Victorian.
  4. Pop Desain
    Pop Art adalah salah satu yang paling “populer” dalam gerakan seni Era Modern. Gerakan pop art dimulai sebagai pemberontakan melawan Ekspresionis Abstrak, yang dianggap megah dan lebih intens. Pop Art sendiri merupakan sebuah bentuk seni yang mencerminkan kembali ke realitas material kehidupan keseharian dari rakyat. Seni ini berasal gaya dari kegiatan visual dan kenikmatan orang: televisi, majalah dan komik.
    Gerakan seni Pop didefinisikan pada tema dan teknik yang diambil dari budaya massa populer. Media seperti iklan, benda budaya duniawi dan buku komik. gerakan seni dianggap sebagai reaksi terhadap ide-ide abstrak ekspresionisme. Pop Art dipekerjakan pada gambar budaya populer dalam seni, menekankan unsur dangkal budaya apapun, biasanya melalui penggunaan ironi.
    Warna-warna dominan yang digunakan oleh seniman Pop Art berwarna kuning, merah dan biru. Warna-warna yang digunakan adalah hidup. Berbeda dengan gerakan seni lainnya, warna pop art itu tidak mencerminkan sensasi batin seniman ‘dari dunia. Sebaliknya, warna-warna ini mengacu pada budaya populer.
    Karakteristik karya seni Pop Art adalah garis yang jelas dan representasi simbol, orang dan benda-benda yang ditemukan dalam budaya populer dan cat yang tajam. Gerakan Pop Art menggantikan, unsur-unsur destruktif satir dan anarkis dari gerakan Dada (gerakan berkonsentrasi pada anti-perang politik dan menolak standar yang berlaku dalam seni dengan menciptakan anti-karya seni budaya) dengan memiliki penghormatan terhadap konsumerisme dan budaya massa.Selama gerakan seni pop, seniman menikmati benda satir dengan memperbesar objek-objek untuk proporsi besar. Makanan adalah tema umum dalam gerakan pop, serta benda-benda rumah tangga seperti kursi dan toilet yang terbuat dari plastik licin bukan bahan apa pun yang mereka biasanya terbuat dari. Sebagai contoh, Toilet Lembut oleh Claes Oldenburg.
  5. Industrial
    Gaya arsitektur industrial awalnya merambah desain interior dan arsitektur Eropa akibat banyaknya bangunan bekas pabrik yang tidak lagi digunakan. Agar tidak terbengkalai, maka dilakukan penyesuaian agar gedung-gedung ini bisa dijadikan hunian yang layak dan nyaman. Akan tetapi, walaupun dilakukan beberapa penyesuaian, karakter asli bangunan sengaja tidak dihilangkan.
    Gaya industrial biasanya menggunakan warna-warna monokromatik dan terkesan maskulin. Beberapa material yang digunakan juga cenderung kasar seperti logam dan baja yang sengaja diekspos untuk menunjukkan karakternya. Material yang digunakan juga memakai bahan-bahan yang didaur ulang atau bahan industri seperti kaca, besi, dan alumunium yang diolah sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan elemen interior yang menarik.
    Kolom-kolom atau struktur atap sering dibiarkan terlihat dengan jelas, beberapa ada yang di-finishing, tetapi ada juga yang unfinish. Salah satu yang paling terlihat dari gaya industrial adalah ekspos tampilan batu bata. Ada pula batu bata yang dicat dengan warna cerah seperti putih atau warna teduh seperti abu-abu. Pemakaian lantai beton juga sering diterapkan untuk memberi kesan kuat.Furnitur yang digunakan cenderung tanpa finishing dan lebih menunjukkan warna aslinya. Furnitur berbahan kayu biasanya tidak dicat, melainkan hanya dipolitur untuk mengantisipasi rayap. Furnitur berbahan besi, alumunium, dan stainless juga tidak dicat sama sekali, tetapi dibiarkan apa adanya seperti layaknya material asli.
    Gaya ini biasanya didesain fungsional dengan latar belakang teknik yang kuat. Material yang terlihat apa adanya menampilkan nuansa yang berkaitan dengan dunia industri. Desain ini biasanya digunakan oleh para penghuni rumah yang menginginkan suasana hunian dengan tampilan rough dan maskulin.
  6. Bio Desain
    Bio design adalah suatu konsep dalam membuat desain yang mengacu pada bentuk-bentuk mahluk hidup dan alam lingkungan. Bio design muncul sebagai jawaban atas perkembangan desain pada tahun 1970-an yang cenderung lebih mengutamakan fungsional, teknis , tidak menampilkan keakraban antara desain yang di hasilkan dengan manusia sebagai pengguna. Sekitar tahun 1980 Luigi colani seorang seniman Jerman merupakan pencetus pertama yang  memulai gagasan bio desain dan di aplikasikan pada berbagi desain, seperti mobil, pesawat terbang, kamera, pakaian dan sejumlah peralatan rumah tangga. Bio desain yang dikembangkan Luigi colani dari segi bentuk lebih cenderung meniru karakter binatang, tumbuhan atau segala sesuatau yang ada di alam.
  7. Green Design/ Eco Desain
    Istilah “Green Design”  kini semakin sering terdengar. Namun, sebenarnya seperti apa bangunan tersebut? Seringkali  Green Design diartikan sebagai bangunan dengan segala sesuatu yang berbau “hijau”. Namun sebenarnya, menurut arsitek, Riri Novriansyah, Green Building atau Green Design erat kaitannya dengan energi, terutama yang berdampak bagi lingkungan, sosial, masyarakat, serta ekonomi. Dia menjelaskan, dari tiga komponen, sosial, manusia, ekonomi, dapat diambil irisannnya, di sanalah Green Design berada. 
    Green Design harus bisa menguntungkan, secara sosial menaikkan kualitas hidup manusia dan lingkungan tidak terbebani,” ujarnya. Komponen untuk mewujudkan ide besar Green Design tersebut dapat melalui pengolahan energi, air, material, dan kesehatan penggunanya. Arsitektur hijau atau yang dikenal secara global dengan sebutan Green Architecture merupakan salah satu aliran arsitektur yang berfokus pada arsitektur yang ramah lingkungan. Beberapa poin pentingnya seperti meminimalisasi konsumsi sumber daya alam, efisiensi energi, penggunaan air yang bijak dan berkelanjutan, dan material non polusi serta daur ulang.

Blog Populer Lainnya


Blog Terkait